Selasa, 03 Januari 2017

Review Jurnal Dampak Positif dan Negatif Permainan Game Online Dikalangan Pelajar

REVIEW JURNAL
Judul                    : Dampak Positif dan Negatif Permainan Game Online Dikalangan Pelajar.
Jurnal                      : Journal of Management FISIP
Volume & Halaman  : Vol.2 No.2
Tahun                     : 2015
Penulis                   : Rahmad Nico Suryanto
Reviewer                : Abyan Dwi Harpan (10515049)

I.                   LATAR BELAKANG MASALAH
A.       Masalah
Pengguna games online yang memiliki kontrol diri yang tinggi mampu mengatur penggunaan games online sehingga tidak tenggelam dalam games online, mampu menggunakan games online sesuai dengan kebutuhan, mampu memadukan aktivitas online dengan aktivitas-aktivitas lain dalam kehidupannya. Pengguna games online dengan kontrol diri yang rendah tidak mampu mengarahkan dan mengatur perilaku online nya. Mereka tidak mampu menginterpretasi stimulus yang dihadapi, dan tidak mampu memilih tindakan yang tepat. Pengguna games online dengan kontrol diri rendah tidak mampu mengatur penggunaan games online sehingga perhatian tertuju hanya pada games online, berharap untuk segera online atau memikirkan aktivitas online. Jarak akses yang dekat antara warnet dengan sekolah semakin memudahkan para pelajar yang membolos pada saat jam pelajaran, atau memang sekedar menghabiskan waktunya sepulang sekolah dengan memilih bermain games online.
Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul: “Dampak Positif dan Negatif Permainan Game Online Dikalangan Pelajar”.

B.        Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui bagaimana dampak positif dan negatif dari kecanduan game online dikalangan pelajar berdasarkan segi waktu, keuangan, akademik, sosial, kesehatan, dan psikologinya.

II.                METODE
A.       Metode penelitian
Metode yang digunakan adalah kualititatif yaitu observasi dan wawancara. Tipe penelitian adalah analisa data yang dilakukan untuk menjawab penelitian ini adalah statistik deskriptif. Hasan (2001:7) menjelaskan statistik deskriptif atau statistik deduktif adalah bagian dari statistik mempelajari cara pengumpulan data dan penyajian data sehingga mudah dipahami.

B.        Subjek dan Sampel Penelitian
Subjek penelitian ini adalah 30 orang yang terdiri dari anak SMP dan SMA. Lokasi penelitian di 5 warnet yaitu; Leonet, Abdinet, Skynet, Luckynet, Rindangnet. Warnet-warnet tersebut berada disekitar sekolah di Jalan Lili, Jalan Melur, dan Jalan Dahlia yang berada di Kecamatan Sukajadi Kota Pekanbaru. Teknik penentuan sampel dalam penelitian ini populasi adalah non probability maka teknik penetapan sampel menggunakan teknik accidental sampling. Menurut Sugiyono (2010: 53) teknik penetapan accidental sampling adalah pengambilan sampel secara tidak sengaja atau acak. Pada penelitian ini ditetapkan jumlah sampel sebanyak 30 orang, sehingga masing-masing warnet ditetapkan sebanyak 6 orang responden.

III.             PEMBAHASAN/ REVIEW
Secara keseluruhan konten jurnal ini sudah terlihat sangat baik dalam hal mendeskripsikan apa yang ingin disampaikan peneliti. Karena penelitian ini termasuk penelitian yang menggunakan metode secara kualitatif yakni observasi dan wawancara. Deskripsi yang detail dan mendalam tentang kasus merupakan sebuah keharusan bagi peneliti kualitatif. Ditambah dengan menggunakan tipe penelitian statistik deskriptif, peneliti bisa mengumpulkan dan menyajikan data yang mudah dipahami.

IV.             KESIMPULAN

Karakter pemain yang sering bermain game online dari 30 responden sebagian besar responden adalah a) pelajar atau remaja sekolah yang letak sekolahnya berdekatan dengan warnet, b) pelajar berjenis kelamin laki-laki dengan jumlah 28 orang, c) responden terbanyak adalah pelajar berusia 13-17 tahun dengan jumlah 22 orang, dan d) responden terbanyak adalah pelajar yang orang tuanya bekerja sebagai PNS/ karyawan dengan jumlah 12 orang. Dampak Positif, dapat menghilangkan stres akibat rutinitas sekolah, nilai mata pelajaran komputer paling menonjol di sekolah, cepat menyelesaikan soal permasalahan (problem solving) dalam pelajaran, dan mudah berkenalan dengan teman baru yang memiliki hobby sama. Dampak Negatif, sering bolos agar bisa bermain game online di warnet, prestasi akademik yang rendah, penggunaan uang jajan yang tidak tepat sebagaimana mestinya, jarang berolahraga dalam setiap minggu, dan boros jika mempunyai uang.

ADIKSI PORNOGRAFI

I.       PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pada era modern sekarang, hampir semua masyarakat sudah menikmati dari perkembangan teknologi. Hal-hal yang sulit dijangkau pada masa lalu, sekarang dapat dengan mudah dijangkau oleh siapa saja misal orang yang berkomunikasi menggunakan telepon.Padahal mereka berada pada tempat yang jauh dan berbeda. Apalagi pada saat ini yang sudah ada penemuan baru bernama internet. Semua yang manusia butuhkan ada di sana. Begitu pula dengan masyarakat Indonesia yang tentunya juga ingin menikmati perkembangan teknologi yang bernama internet. Namun dampak dari perkembangan teknologi tersebut tidak lah selalu kearah yang lebih baik. 
 Penggunaan internet untuk mengakses situs-situs porno memang sangat sulit untuk dihindari, mengingat bahwa situs-situs semacam itu tersedia sangat banyak dalam dunia maya tersebut. Kenyataan yang ada di Indonesia saat ini tampaknya tidak jauh berbeda. Hal itu terlihat dari masuknya situs-situs porno di search engine sebagai Top 10 Website yang paling banyak dikunjungi. Dengan melihat jumlah pengakses situs-situs porno di internet yang cenderung meningkat dari hari ke hari, maka perlu diwaspadai dampak penggunaan teknologi tersebut terhadap kesehatan mental dan hubungan interpersonal si user (pengguna).

B.     Tujuan
Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah untuk menghindari adiksi pornografi bagi pengguna pengguna internet dan diharapkan dapat menambah pengetahuan yang bermanfaat bagi kita semua.




II.    LANDASAN TEORI

A.    Adiksi

1.    Pengertian Adiksi
Menurut Nadesul (2011), adiksi merupakan gejala permukaan. Harus dipelajari pemicu yang berasal dari lingkungan dan emosi. Setelah pemicu tersebut dapat diketahui dan dapat dikontrol, orang itu dapat menggali masalah itu lebih dalam, seperti; citra diri, perawatan diri, masalah relasi, dan memotivasi sistem responder otak antara lain dengan mencari aktifitas pengganti lebih baik guna mengalihkan diri dari godaan.
Menurut Martono dan Joewana (2006), adiksi adalah suatu penyakit bio-psiko-sosial, artinya melibatkan aspek biologis, psikologis, dan sosial, juga aspek rohani.
Adiksi merupakan suatu kondisi ketergantungan fisik dan mental terhadap hal-hal tertentu yang menimbulkan perubahan perilaku bagi orang yang mengalaminya.

B.     Pornografi

1.      Pengertian Pornografi
Menurut Chatib (2012), pornografi adalah materi seksualitas yang dibuat oleh manusia dalam bentuk gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, syair, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan komunikasi lain melalui berbagai bentuk media komunikasi dan pertunjukkan di muka umum, yang dapat membangkitkan hasrat seksual dan melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyrakat.
Menurut Irianto (2006), pornografi berasal dari kata Yunani kuno yaitu pornc dan graphos. Pornc berarti pelacur kelas rendah dan graphos berarti tulisan, sketsa, atau gambar. Dengan demikian pornografi adalah tulisan, sketsa, atau gambar tentang perempuan sebagai pelacur kelas murah.
Pornografi adalah perbuatan, gambar, tulisan, lagu, suara, bunyi, benda atau segala sesuatu yang dapat merangsang birahi manusia, menyinggung rasa susila masyarakat umum, dan dapat mengakibatkan tindakan maksiat serta dapat mengganggu ketentraman umum.

2.      Aspek-aspek Pornografi
Menurut Cerita Remaja Indonesia (2011), aspek-aspek pornografi adalah sebagai berikut;
a.       Meningkatnya berbagai kasus kekerasan seksual pada remaja.
b.      Rangsangan kuat dari luar seperti; film-film seks, games, buku-buku bacaan, dan majalah-majalah bergambar seksi.
c.       Pengamatan secara langsung terhadap perbuatan seksual tidak hanya mengakibatkan memuncaknya atau semakin panasnya reaksi-reaksi seksual tetapi juga mengakibatkan kematangan seksual yang lebih cepat pada diri anak.

C.    Adiksi Pornografi

1.      Pengertian Adiksi Pornografi
Menurut Mark Kastleman (dalam Pasiak, 2009), mengungkapkan adiksi pornografi disebabkan oleh stimulasi oleh pornografi yang merangsang pelepasan hormon dopamin dan endorfin. Jumlah reseptor di dalam otak juga harus terus bertambah yang dapat menggiring seseorang menjadi kecanduan.
Menurut Nadesul (2011), adiksi pornografi sama prosesnya dengan kecanduan kokain dan zak adiktif lain. Paparan pornografi menyebabkan perubahan konstan pada neurotransmiter dan melemahkan fungsi kontrol. Seseorang yang kecanduan pornografi tak bisa mengontrol perilaku seksnya dan mengalami gangguan memori.
Menurut Durham (2015), adiksi pornografi adalah model kecanduan aktivitas seksual kompulsif dengan penggunaan dari materi pornografi, meskipun memiliki konsekuensi negatif terhadap seseorang untuk fisik, mental, sosial, atau kesejahteraan finansial.
Menurut Sanjaya, Christine, dan Arista (2010), adiksi pornografi adalah adiksi yang paling sulit diubah karena hal-hal yang terkait dengan seksual memang sangat manusiawi, untuk segala usia.
Dari beberapa pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa adiksi pornografi adalah perilaku berulang untuk melihat hal-hal yang merangsang nafsu seksual, dapat merusak kesehatan otak dan kehidupan seseorang, serta pecandu pornografi tidak sanggup menghentikannya.

2.      Ciri-ciri adiksi pornografi
Menurut Telkomsel (2016), ciri-ciri orang yang adiksi pornografi:
a.       Bila ditegur dan dibatasi penggunaan smartphone atau laptopnya akan marah, melawan, berkata kasar, bahkan keji.
b.      Mulai impulsif, berbohong, jorok, moody.
c.       Malu tidak pada tempatnya.
d.      Sulit berkonsentrasi.
e.       Jika berbicara menghindari kontak mata.
f.       Menyalahkan orang.
g.      Secara emosional menutup diri.
h.      Prestasi akademis menurun.
i.        Main dengan kelompok tertentu saja.
j.        Hilang empati, yang diminta harus diperoleh segera.



3.      Indikator perilaku adiksi pornografi
Menurut Kimberly (2011), perilaku adiksi pada objek pornografi dapat dilihat dari beberapa indikator berikut:
a.       Merasa terhanyut atau keasyikkan dengan internet berkonten pornografi.
b.      Memerlukan waktu tambahan dalam mencapai tingkat kepuasan tertentu sewaktu menggunakan internet untuk mengakses konten pornografi.
c.       Tidak mampu lagi mengontrol, mengurangi, atau menghentikan penggunaan internet untuk mengakses konten pornografi.
d.      Merasa gelisah, murung, depresi, atau lekas marah ketika berusaha mengurangi atau menghentikan penggunaan internet untuk mengakses konten pornografi.
e.       Mengakses internet untuk mengakses konten pornografi lebih lama dari yang dia harapkan.
f.       Kehilangan orang-orang terdekatnya, pekerjaannya, kesempatan dalam pendidikan, ataupun karir karena penggunaan internet untuk mengakses konten pornografi secara berlebihan.
g.      Mulai membohongi keluarga, terapis, atau orang-orang terdekat untuk menyembunyikan perilaku, dan keterlibatan lebih jauh dengan internet dan konten pornografi.
h.      Menggunakan internet untuk mengakses konten pornografi sebagai suatu jalan keluar mengatasi masalah yang dia hadapi atau menghilangkan perasaan seperti keadaan tidak berdaya, rasa bersalah, kegelisahan, atau depresi.




III.  CONTOH KASUS

Seorang anak bernama Angga adalah siswa yang cukup berprestasi di sekolahnya, ia selalu mendapat ranking tiga besar di kelas tujuh semester satu dan semester dua. Naik kelas ke kelas delapan, sesuai peraturan sekolah kelas pun diacak kembali siswa-siswanya. Angga bertemu teman-teman baru di kelasnya dengan berbagai macam karakter. Salah satu teman angga yang bernama Resky adalah orang yang senang mengoleksi video porno. Resky mengajak Angga untuk menonton video porno bersama-sama. Keesokan harinya hampir setiap jam istirahat sekolah mereka menyempatkan untuk menonton 1 video porno. Angga penasaran bagaimana Resky mendapatkan video tersebut, lalu ia minta diajari oleh Resky bagaimana cara mengakses video porno tersebut. Resky mengajari Angga cara untuk mengakses video porno melalui internet.
Setelah pulang sekolah Angga pulang ke rumah dengan terburu-buru, ia langsung masuk kamar dan menguncinya, Angga mencoba apa yang telah diajarkan Resky kepadanya. Setelah saat itu, Angga menjadi lebih sering menghabiskan waktunya untuk menonton dan mengakses konten pornografi daripada mengerjakan tugas-tugasnya dan belajar untuk ulangan. Orang tua Angga menyadari bahwa anaknya tidak terlihat belajar saat di rumah, lalu mengancam Angga dengan cara untuk menyita smartphonenya dan memutus koneksi internet di rumah, tapi Angga malah marah-marah, lalu membohongi orang tuanya bahwa ia akan mulai rajin belajar kembali jika hal tersebut tidak dilakukan. Di sekolah, Angga menjadi orang yang tertutup terhadap teman-temannya yang rajin, dan lebih memilih bermain bersama Resky. Angga juga menjadi orang yang suka berkata-kata kasar dan sering membantah jika diberi nasehat oleh teman, guru, dan orang tuanya. Saat guru menerangkan pelajaran angga terlihat lebih sering melamun, ketika ditanya guru ia tidak bisa menjawab, nilai-nilai rapot Angga di sekolah menurun, guru-guru dan teman-temannya yang lain menjadi kurang suka dengan sifat dan sikap Angga yang sekarang.

IV.  PEMBAHASAN & KESIMPULAN

Contoh kasus diatas menunjukkan bahwa seseorang yang kecanduan pornografi berawal dari rasa penasaran dan lingkungan, karena adiksi merupakan gejala permukaan. pemicunya berasal dari lingkungan dan emosi, menempatkan seseorang dalam ketergantungan fisik dan mental terhadap hal-hal tertentu yang menimbulkan perubahan perilaku bagi orang yang mengalaminya. Pornografi ialah materi seksualitas bisa berupa video, gambar, dan sebagainya yang dapat membangkitkan hasrat seksual dan melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyrakat. Kecanduan Pornografi menyebabkan seseorang berperilaku agresif, menjadi orang yang tertutup di lingkungan sekitarnya, dan suka berbohong kepada orang-orang untuk memenuhi keinginannya.
Selain itu kecanduan pornografi cukup berbahaya untuk otak, sebab adiksi pornografi sama prosesnya dengan kecanduan kokain dan zat adiktif lain. Paparan pornografi menyebabkan perubahan konstan pada neurotransmiter dan melemahkan fungsi kontrol. Seseorang yang kecanduan pornografi tak bisa mengontrol perilaku seksnya dan mengalami gangguan memori. Itulah mengapa anak pada contoh kasus diatas mengalami penurunan prestasi dan juga perubahan tingkah laku ke arah yang lebih negatif.
Berikut adalah ciri-ciri orang yang adiksi pornografi Menurut Telkomsel (2016), ciri-ciri orang yang adiksi pornografi:
a.       Bila ditegur dan dibatasi penggunaan smartphone atau laptopnya akan marah, melawan, berkata kasar, bahkan keji.
b.      Mulai impulsif, berbohong, jorok, moody.
c.       Malu tidak pada tempatnya.
d.      Sulit berkonsentrasi.
e.       Jika berbicara menghindari kontak mata.
f.       Menyalahkan orang.
g.      Secara emosional menutup diri.
h.      Prestasi akademis menurun.
i.        Main dengan kelompok tertentu saja.
j.        Hilang empati, yang diminta harus diperoleh segera.
Bila pada anak terdapat ciri-ciri diatas ada baiknya sebagai orang tua memantau pergaulan anak di lingkungannya, lalu membatasi penggunaan smartphone yang berlebihan. Seks adalah ilmu pengetahuan, lebih bagus jika orang tua mengajari secara bertahap kepada anak sesuai dengan usianya. Agar tidak kaget saat melihat atau mendengar hal-hal berbau seks, jika sebelumnya tidak mengetahui sama sekali, ketika ia tahu cenderung dapat mengalami adiksi pornografi. Apabila memang sudah terlalu kecanduan, baiknya dibawa ke terapis.













V.    DAFTAR PUSTAKA

Chatib, M. (2012). Orangtuanya Manusia. Bandung: Mizan Pustaka.
Durham, S. (2015). Opposing Pornography; A look at the Anti-Pornography
    Movement.
United Kingdom: AMF Publishing.
Irianto, S. (2006). Perempuan dan Hukum; Menuju Hukum yang Berperspektif
    Kesetaraan dan Keadilan
. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Kimberly, S.Y. (2011). Internet Addiction: A Handbook and Guide to Evaluation and
    Treatment
. New Jersey: John Wiley & Sons.
Martono, L.H., dan Satya Joewana. (2006). Modul Latihan Pemulihan Pecandu
    Narkoba Berbasis Masyarakat
. Jakarta: Balai Pustaka.
Nadesul, H. (2011). Menyayangi Otak, Menjaga Kebugaran, Mencegah Penyakit,
    Memilih Makanan
. Jakarta: Buku Kompas.
Pasiak, T. (2009). Unlimited Potency of The Brain. Jakarta: Mizan Publishing.
Sanjaya, R., Christine Wibhowo, dan Arista Prasetyo Adi. (2010). Parenting Untuk
    Pornografi di Internet
. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.
Telkomsel. (2016). 17 Rumus Keren InternetBAIK. Jakarta: InternetBAIK.

Cerita Remaja Indonesia. (2001). Materi Yang Menonjolkan Seks di MediaI.
    Diunduh 23 Desember 2016 dari
   
http://hqweb01.bkkbn.go.id/hqweb/ceria/mblmateriseksual.html.





Senin, 10 Oktober 2016

JUNKING

        Psikologi & Teknologi Internet
      
    
JUNKING INTERNET


Disusun Oleh :

Abyan Dwi Harpan (10515049)

Fikri Dio Aisy N. (12515672)

Hafidz Syams A.R. (12515986)

Sufi Ghossan (16515698)

Kelas : 2PA10                


Fakultas Psikologi S-1 Psikologi
Universitas Gunadarma 2016



KATA PENGANTAR


            Puji syukur kepada Allah Yang  Maha Esa. Shalawat Serta Salam di limpah kan kepada Rasullah SAW. Kami bersyukur pada ilahi robbi yang telah memberikan hidayah serta taufik-Nya kepada penulis sehingga makalah yang kami susun dapat di selesaikan dengan tepat waktu.
            Susunan makalah yang kami buat dengan keterbatasan pengetahuan yang kami punya dengan materi JUNKING INTERNET yang bisa mungkin kami tuangkan pemikiran kami dalam bentuk makalah yang sederhana ini.
            Kami menyadari bahwa dalam makalah ini masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu kepada para pembaca kami mengharapkan kritik dan saran untuk kesempurnaan makalah ini, Semoga makalah yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi kita semua.



Penulis
   
  

Latar Belakang

Seiring dengan perkembangan internet, banyak dibangun sistem berupa layanan yang bersifat aplikatif dan real-time, yang memungkinkan seorang pengguna mengaksesnya dari mana saja dan mendapatkan informasi terkini. Saat ini internet memiliki beragam layanan aplikasi web yang kompleks. Maka dari itu tugas ini dibuat agar semua orang tau beberapa layanan aplikasi di internet.


       

A.   Definisi


            Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin modern ini, penggunaan teknologi internet sudah seperti kebutuhan pokok baik untuk kalangan orang tua, remaja, bahkan anak-anak. Selain memudahkan untuk berkomunikasi, internet juga digunakan untuk mencari informasi. Tetapi dengan banyaknya penggunaan internet ini orang-orang terkadang tidak tahu tempat untuk mempublish tulisan atau postingan, membajak blog orang lain, lalu menyebarkan informasi yang tidak benar yang akhirnya melanggar nettiquette.
            Nettiquette singkatan dari Network etiquette, adalah kode etik dalam berprilaku selama seseorang melakukan aktifitas pada jaringan internet. Dalam penggunaan internet perlu diperhatikan berbagai aturan yang menghindari kita berperilaku tidak sesuai dengan seharusnya. Salah satu yang termasuk pelanggaran kode etik internet adalah junking.
            Junking dapat diartikan sebagai posting yang tidak pada tempatnya dan hanya merusak topik tersebut karena tidak berhubungan dengan topik yang dibahas, juga tidak bermanfaat bagi orang banyak atau yang biasa kita kenal dengan sebutan spamming. Orang yang melakukan junking disebut juga sebagai junker. Bentuk junking yang dikenal secara umum meliputi; penggunaan kata-kata sara, mengkonfrontasi seseorang, membuat tulisan atau postingan yang sama sekali tidak bermanfaat. Junking ini juga biasanya terjadi pada e-mail yang sering disebut junk mail. (Irwansyah, 2014).

B.   Contoh Kasus


Ada seseorang yang membuat thread di kaskus tentang penjualan barang elektronik yaitu keyboard. Lalu di thread yang dipostkan oleh orang tersebut, dikomentari oleh orang lain dengan membuat komentar menanyakan “Gan ane mau tanya berapa harga keyboardnya?”. Orang yang berkomentar itu tak hanya sekali menanyakannya, namun terus-menerus dengan komentar yang sama dalam waktu 5 menit bisa ada 20 komentar yang sama.  Ada juga yang berkomentar menggunakan emoticon dan gambar secara berulang-ulang tanpa maksud tujuan yang jelas.

C.   Analisa Kasus

Contoh kasus di atas menunjukkan bahwa seorang konsumen (junker) melakukan hal tersebut untuk mencari perhatian atau untuk menjatuhkan reputasi pembuat thread. Menurut Kasali (2007), terdapat Low profile – high profile factor yang menunjukkan seberapa jauh seseorang mempunyai keinginan untuk mencari perhatian. Low profile factor menggambarkan suatu karakter yang cenderung tidak ingin menonjolkan diri dan kurang terbuka terhadap perubahan. Sedangkan yang menggambarkan suatu karakter yang cenderung terbuka dan bertujuan untuk menonjolkan dirinya disebut high profile factor.
Kepribadian junker dapat dipengaruhi oleh beberapa factor baik dari pengaruh lingkungan, maupun diri sendiri. Menurut James F. Engel – Roger D. Blackwell – Paul W. Miniard dalam Saladin (2003 : 19), faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen yaitu:
  1. Pengaruh lingkungan, terdiri dari budaya, kelas sosial, keluarga dan situasi. Sebagai dasar utama perilaku konsumen adalah memahami pengaruh lingkungan yang membentuk atau menghambat individu dalam mengambil keputusan berkonsumsi mereka. Konsumen hidup dalam lingkungan yang kompleks, dimana perilaku keputusan mereka dipengaruhi oleh keempat faktor tersebut diatas.
  2. Perbedaan dan pengaruh individu, terdiri dari motivasi dan keterlibatan, pengetahuan, sikap, kepribadian, gaya hidup, dan demografi. Perbedaan individu merupakan faktor internal (interpersonal) yang menggerakkan serta mempengaruhi perilaku. Kelima faktor tersebut akan memperluas pengaruh perilaku konsumen dalam proses keputusannya.
  3. Proses psikologis, terdiri dari pengolahan informasi, pembelajaran, perubahan sikap, dan perilaku. Ketiga faktor tersebut menambah minat utama dari penelitian konsumen sebagai faktor yang turut mempengaruhi perilaku dalam pengambilan keputusan.
Lingkungan yang positif dapat mencegah timbulnya prilaku junking, sedangkan lingkungan yang buruk (negatif) serta kurangnya perhatian orang tua dan masyarakat setempat dalam mengontrol perilaku anak dapat melahirkan kepribadian junking, yang akan diaplikasikan oleh anak tersebut dalam kehidupan sehari-hari bahkan saat sudah dewasa. Kurt Lewin (dalam Azwar, 1995) merumuskan suatu model hubungan perilaku yang mengatakan bahwa perilaku adalah fungsi karakteristik individu dan lingkungan, yaitu karakteristik individu meliputi berbagai variable seperti motif, nilai-nilai, sifat kepribadian, dan sikap yang saling berinteraksi pula dengan faktor-faktor lingkungan dalam menentukan perilaku. Faktor lingkungan memiliki kekuatan besar dalam menentukan periaku, bahkan kadang-kadang kekuatannya lebih besar daripada karakteristik individu. Terlebih lagi di masa yang sudah modern ini kehidupan tidak bisa lepas dari internet. Junker dapat dengan mudah mengaplikasikannya di dunia maya khususnya KASKUS, seperti pada contoh kasus diatas.
Perilaku junking juga dapat mempengaruhi psikologis sesama pengguna layanan KASKUS. Menurut Rakhmat (2009) pada umumnya orang menggunakan internet untuk memuaskan kebutuhan psikologis. Sering terjadi juga orang menggunakan internet untuk menghilangkan perasaan tidak enak, misalnya; kesepian, kecewa, dan sebagainya. Internet digunakan untuk tanpa mempersoalkan isi pesan yang disampaikannya. Kehadiran internet bukan saja menghilangkan perasaan, ia pun menumbuhkan perasaan. Dalam hal ini junker mendapat kepuasan setelah melakukan junking, sekaligus merugikan pembuat thread karena dapat mempengaruhi pengguna lainnya, karena perilaku junking dapat menjatuhkan reputasi pembuat thread yang berdampak pada proses penjualan dalam thread tersebut. Louis Thurstone, Rensis Likert, dan Charles Osgood, berpendapat bahwa terdapat suatu sikap yang ditimbulkan oleh seseorang terhadap suatu objek dapat berupa perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable) pada objek tersebut. (Azwar, 1995)
Pihak KASKUS (admin) menyadari kemungkinan yang merugikan pengguna layanannya. Oleh karena itu komentar junking segera dihapus untuk menghindari kerugian pihak manapun dan meningkatkan kenyamanan para pengguna layanan KASKUS.   


Daftar Pustaka


Kasali, R. (2007). Membidik pasar indonesia segmentasi, targeting, positioning.
Jakarta: PT.Gramedia
Irwansyah, E. (2014). Pengantar teknologi informasi. Yogyakarta: Deepublish
Saladin, D. (2003). Manajemen pemasaran (analisis, perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian). Bandung: Linda Karya.
Rakhmat, J. (2009). Psikologi komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Azwar, S. (1995). Sikap manusia: teori dan pengukurannya. Ed.2. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rabu, 05 Oktober 2016

PERANAN PSIKOLOGI DALAM INDUSTRI DAN ORGANISASI

Assalamualaikum Wr.Wb

Sebelum membahas peranan psikologi dalam industri dan organisasi, ada baiknya kita memahami pengertian dari psikologi, industri, dan organisasi. Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dan proses mental. Industri adalah suatu usaha atau kegiatan yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi atau barang jadi menjadi barang yang bermutu tinggi dalam penggunaannya. Organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui orang-orang dibawah pengarahan manajer mengejar tujuan bersama. Jadi psikologi industri dan organisasi merupakan suatu keseluruhan pengetahuan yang berisi fakta, aturan, dan prinsip-prinsip tentang perilaku manusia pada pekerjaan.

Peranan

Peranan adalah sesuatu yang mempunyai dampak yang bermanfaat bagi hal lain dan bersifat luas. Berikut adalah peranan psikologi dalam industri dan organisasi;
  1. Mempelajari perilaku manusia dalam perannya sebagai tenaga kerja dan konsumen.
  2. Terlibat dalam proses rekruitmen, seleksi, dan penempatan karyawan.
  3. Berfungsi sebagai mediator dalam hal-hal yang berorientasi pada produktivitas, misal; melakukan pelatihan dan pengembangan, menciptakan manajemen keamanan kerja dan teknik-teknik pengawasan kinerja, meningkatkan motivasi dan moral kerja karyawan, menentukan sikap-sikap kerja yang baik dan mendorong munculnya kreativitas karyawan.
  4. Berfungsi sebagai mediator dalam hal-hal yang berorientasi pada pemeliharaan, seperti; melakukan hubungan industrial (pengusaha-buruh-pemerintah), memastikan komunikasi internal perusahaan berlangsung dengan baik, ikut terlibat dalam penentuan gaji pegawai dan bertanggungjawab atas dampak yang ditimbulkannya, pelayanan berupa bimbingan atau konseling bagi karyawan-karyawan yang mengalami masalah-masalah psikologis.
  5. Melakukan penilaian kinerja.
  6. Mengukur produktivitas perusahaan.
  7. Mengevaluasi jabatan dan kinerja karyawan.
       Dapat disimpulkan  bahwa Psikologi berperan dalam semua aspek-aspek individual yang berhubungan dengan industri dan organisasi.

Selasa, 29 Desember 2015

PUISI MANUSIA DAN TUHAN

PEMERAN DRAMA TUHAN


Aku hanyalah pemeran drama Tuhan
Memainkan peran tentang kehidupan
Bertanya-tanya akan masa depan
Mencari-cari kesenangan


Aku penasaran, drama apalagi yang akan tertulis
Peran apalagi yang akan aku mainkan
Tuhan, panggung kehidupan ini terlalu besar
Terlalu menakutkan untuk aku jalankan

Namun aku tau kuasa-Mu sangat besar
Aku tau scenario-Mu akan berakhir indah
Terimakasih Tuhan
Kau lah yang Maha Penyayang